Teori Pembelajaran Transformasional: Mengubah Cara Berpikir Menuju Pendidikan yang Bermakna
Dalam dunia pendidikan modern, tujuan pembelajaran tidak hanya sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak peserta didik. Konsep ini menjadi inti dari Teori Pembelajaran Transformasional (Transformational Learning Theory) yang dikembangkan oleh Jack Mezirow. Teori ini berfokus pada proses bagaimana individu merefleksikan pengalaman mereka, menantang asumsi lama, dan membentuk perspektif baru yang lebih matang dan kritis. Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya di program doktor seperti S3 Manajemen Pendidikan UNESA, teori ini memberikan arah bagi bagaimana pembelajaran dapat mendorong mahasiswa menjadi peneliti dan pemimpin pendidikan yang berpikir reflektif dan transformatif.
Proses pembelajaran transformasional biasanya diawali dari disorienting dilemma — yaitu pengalaman atau situasi yang menantang cara pandang lama seseorang. Dalam konteks pendidikan, hal ini bisa berupa temuan riset baru, situasi sosial yang kompleks, atau perubahan kebijakan yang memaksa pendidik untuk meninjau kembali keyakinannya. Melalui dialog kritis, refleksi diri, dan interaksi akademik, peserta didik mulai menyadari bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang statis, tetapi dinamis dan selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang. Proses inilah yang membuat pembelajaran tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif.
Dalam praktiknya, penerapan teori pembelajaran transformasional menuntut peran aktif pendidik sebagai fasilitator refleksi dan dialog. Dosen atau guru perlu menciptakan ruang belajar yang aman untuk mengekspresikan pandangan berbeda, berdiskusi, dan mengkritisi ide dengan terbuka. Misalnya, dalam kelas manajemen pendidikan, mahasiswa didorong untuk mengkaji kebijakan atau praktik sekolah dari berbagai perspektif, bukan hanya berdasarkan teori konvensional. Dengan cara ini, peserta didik belajar mengaitkan pengalaman pribadi dengan konteks sosial yang lebih luas — sebuah langkah penting dalam membangun kesadaran kritis dan empati sosial.
Pembelajaran transformasional juga memiliki relevansi besar dalam pengembangan profesional tenaga pendidik. Guru atau dosen yang menerapkan pendekatan ini akan terus belajar dari pengalaman, mengevaluasi praktik pengajaran mereka, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan peserta didik. Ketika pendidik berani keluar dari zona nyaman dan menantang cara mengajarnya sendiri, mereka turut mengalami proses transformasi yang sama seperti muridnya. Hal ini memperkuat budaya belajar sepanjang hayat (lifelong learning) di lingkungan pendidikan dan menjadikan sekolah maupun universitas sebagai ruang yang hidup dan terus berkembang.
Bagi mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan UNESA, Teori Pembelajaran Transformasional memberikan wawasan penting tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi alat perubahan sosial. Dengan memahami mekanisme perubahan perspektif individu, para calon pemimpin pendidikan dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih reflektif, partisipatif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Pendidikan yang transformatif tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis, beradaptasi terhadap perubahan, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan berkesadaran tinggi.